Lansia Meninggal Usai Dokter Salah Potong Pembuluh Darah dalam Operasi di Singapura
Kronologi Operasi yang Berujung Fatal
Singapura – Seorang lansia berusia 63 tahun meninggal dunia setelah menjalani operasi pengangkatan tumor di salah satu rumah sakit di Singapura karena dokter secara tidak sengaja memotong pembuluh darah besar yang salah saat prosedur berlangsung. Kesalahan ini baru terungkap kemudian selama penyelidikan oleh otoritas medis setempat.
Pasien menjalani operasi untuk mengangkat tumor ginjal pada akhir April 2022 setelah mengalami gejala klinis termasuk darah dalam urin dan ketidaknyamanan perut. Operasi dijadwalkan setelah pemeriksaan menemukan pertumbuhan tidak normal di ginjalnya.
Kesalahan Medis dalam Prosedur Bedah
Dalam proses operasi, doktor yang menangani ternyata memutus dua arteri besar yang seharusnya tidak dibedah — yaitu arteri utama yang memasok darah ke organ perut — bukan arteri yang berkaitan langsung dengan ginjal. Aksi ini menyebabkan aliran darah ke sejumlah organ terganggu secara kritis.
Setelah operasi, kondisi pasien tidak membaik dan mengalami komplikasi serius. Upaya medis lanjutan untuk memperbaiki pembuluh darah yang terpotong tidak dilakukan karena risiko operasi tambahan yang dinilai sangat tinggi. Akibatnya, pasien meninggal beberapa hari kemudian.
Temuan Inkuiri Koroner Singapura
Dalam penyelidikan resmi yang dilakukan oleh State Coroner di Singapura, ditemukan bahwa dokter tidak segera menyadari kesalahan yang terjadi di ruang operasi. Bahkan setelah menyadari ada yang tidak beres, tindakan kuratif seperti pemanggilan spesialis pembuluh darah atau pemeriksaan tambahan tertunda, yang dianggap menyumbang pada hasil yang fatal.
Koroner menyatakan kesalahan tersebut sebagai medical misadventure, artinya kematian terjadi karena komplikasi atau hasil tak terduga dari perawatan medis. Penyebab utama adalah pemotongan dua pembuluh darah yang tidak dimaksudkan, bukan karena penyakit awal pasien.
Rekomendasi dan Kritik Terhadap Prosedur Medis
Dalam laporan resmi, koroner menekankan pentingnya verifikasi ulang anatomi pasien sebelum melakukan sayatan besar di area tubuh yang kompleks. Ia juga menyinggung bahwa dokter yang bersangkutan seharusnya segera meminta bantuan spesialis saat menyadari error, tetapi hal itu tidak terjadi.
Rekomendasi ini dibuat untuk mencegah kejadian serupa di masa depan dan memperkuat standar saat menghadapi kondisi di ruang operasi yang tidak sesuai ekspektasi anatomi pasien.